Suka Duka Dua Puluh
Hari hari yang berat bagi kami, para pelajar kelas 12 akhir di tengah dilema kelulusan dan pandemi corona yang 'membunuh' semuanya. hari itu, ketika kabar wabah covid-19 yang mulai menyeruak ke berita berita televisi juga menyebar ke seluruh linimasa sosial media. hari dimana kelas 3 sedang berada di 'puncak' masa putih abuabu. saat itu, ujian sekolah belum sempat sampai di hari pamungkas, namun kabar pandemi terus menyebar sampai pada akhirnya kami terpaksa menyelesaikan ujian melalui gawai dengan model daring. kabar tak kunjung membaik, hingga tiba kabar ujian nasional sebagai 'perang puputan'-nya siswa resmi ditiadakan. di tengah kesedihan akan semakin mewabahnya pandemi, senyum ceria kemenangan ditiadakannya UN yang menjadi momok bagi sebagian besar pelajar tak bisa disembunyikan pula. di setiap suka, pasti selalu ada duka. begitulah, semua suka duka ini terekam dalam: suka duka dua puluh.
Sementara di lain sisi, mereka, para orang tua siswa, yang dimana membiayai biaya bimbingan belajar diluar instansi resmi pendidikan formal, membeli buku buku pelajaran juga rela merogoh kocek dalam dalam demi menghadapi UN, mereka yang mendaftarkan putra putri nya bimbel online, bimbel GO, NEUTRON, PRIMAGAMA, dll yang tentu tak cukup dengan hanya 5 lembaran merah seratus ribuan. kesedihan para wali siswa yang sudah rela menghabiskan banyak biaya untuk "perang" yang bahkan musuhnya saja tak jadi datang. sedih, dongkol, kecewa, mangkel, dan entah rasa apa yang mereka rasakan. namun bagi saya dan sedikit teman saya, atau malah saya dan seorang teman saya, atau mungkin cuma saya sendiri, dengan bermodalkan belajar, doa, usaha dan les tambahan sekolah dibarengi doa ayah ibu saja, saya rasa cukup, tak perlu bimbel, tak perlu beli buku ini itu. disini saya merasakan legowo yang luar biasa 'ploonngg', bagaimana tidak, di sisa waktu yang hanya tinggal beberapa minggu saja UN, untuk materi pelajaran matematika saja saya baru paham 1/40 dari keseluruhan materi yang ada, sungguh kurang ajar jika menyebut usaha, belajar dan doa orang tua saja sudah cukup, syukurnya UN tidak jadi. cukup, cerita ini baru permulaan. masih ada serentetan cerita lain yang terbawa hingga hari hari berikutnya.
Jauh sebelum hari pengumuman kelulusan, sindiran sindiran ringan ala ala kakak kakak kelas dulu sayup sayup terdengar, dimana kali itu kami terima dan bangga dengan label "lulus jalur virus/angkatan corona" yang mereka sematkan. corat coret online, pawai online, lulusan online, wasana warsa online, terima ijazah online jadi guyonan yang sliwar sliwer di linimasa sosial media dan ramai jadi bahan perbincangan para warganet di seluruh penjuru tanah air kala itu.
Hingga akhirnya, hari itu tiba dan menghampiri, hari yang ditunggu dan dinanti nanti akhirnya datang juga, hari yang berat tentunya bagi kami. namun kecemasan yang harusnya lebih dari ini tak terasa seperti kecemasan kecemasan di hari pengumuman biasanya. mungkin momennya yang sudah hilang atau memang sudah yakin kalau bakal lulus, iya lulus jalur virus kalo kata mereka. tugas dan tanggung jawab wajib belajar 12 tahun sebagai siswa gugur sudah. namun, kisah suka duka dua puluh tak selesai cuma sampai disini. bahkan tidak selesai sampai di hari pengumuman saja, masih banyak cerita yang cukup menarik untuk dibahas.


Sesungguhnya, jika ditarik jauh ke belakang lagi, menjadi angkatan 20 memang dari dulu tak lepas dari yang namanya tantangan dan masalah. pertama, angkatan yang menjadi percobaan sistem UNBK, tentu banyak pro dan kontra saat itu, bagaimana tidak, UN yang sebelum sebelumnya selalu dilaksanakan dengan kertas dan pensil 2b serta papan dari sekolah serta sarapan susu dan roti di pagi hari, tiba tiba diganti dengan suguhan keyboard dan mouse, dan sarapan yang masih sama. walaupun lebih efisien, dan lebih mudah, tapi untuk dijadikan bahan percobaan tentu saja susah untuk menerima begitu saja, memang satu satunya yang abadi di dunia ini adalah perubahan, jadi siap tak siap kita nanti pasti akan bertemu dengan yang namanya perubahan. kedua, angkatan 20, angkatan percobaan sistem rayon, kala itu mungkin hingga sampai saat ini banyak teman teman yang mungkin masih kurang terima dengan keputusan pemerintah soal ini, sekali lagi, mungkin. keputusan yang mengharuskan siswa harus mencari sekolah yang sesuai dengan wilayah tempat tinggalnya. banyak teman saya yang walaupun ada beberapa pilihan sekolah yang dekat dengan rumahnya, tapi karena berbeda "wilayah" terpaksa harus mencari sekolah yang sesuai, tak jarang hingga harus menempuh jarak yang lumayan juga. ketiga, angkatan yang lulus jalur virus, seperti yang diatas tadi saya sudah singgung, anjuran pemerintah untuk #dirumahsaja memaksa para tenaga pengajar dan lembaga pendidikan harus memutar otak, hingga akhirnya karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, UN resmi ditiadakan, dan angkatan 20 akhirnya lulus tanpa Ujian Nasional, walaupun ada teman teman lain yang sudah UN lebih dulu. "lulus jalur virus, angkatan corona", yan begitulah julukan yang mereka sematkan bagi kami, angkatan dua puluh. banyak yang tidak terima dengan sematan nama itu, tapi tak sedikit juga yang menjadikan bahan meme dan jadi bahan candaan. mereka yang tidak terima ada yang balik mengatai, adu cekcok, saling berbalas komentar, atau sindir menyindir di sosmed. namun, sampai saat ini saya masih belum mendengar kabar pembunuhan gara gara tersinggung dikatai "angkatan corona", atau tawuran pelajar karena tidak terima diejek "lulus jalur virus", dan semoga tidak ada wkwkwk. selain, ditiadakannya UN, untuk UTBK yang tahun tahun sebelumnya disajikan dengan soal TPS dan TPA, kali ini resmi dirampingkan menjadi TPS saja. lagi lagi, kami juga yang kena semburan karena sudah dimudahkan dengan ditiadakannya UN malah ditambah lagi dengan UTBK yang hanya TPS saja.
Hari demi hari, masih saja kami terus terus dihujani dengan cibiran, hujatan, serta sindiran sindiran ringan. tapi 20 tetaplah 20, angkatan yang hebat dan istimewa tentunya, kenapa istimewa? angkatan 20 adalah angkatan yang pernah mengalami lulus dengan ujian kertas, lulus dengan ujian komputer, serta lulus tanpa menghadapi Ujian Nasional sama sekali. gimana, kalian pernah? hehehe. begitulah kami, angkatan yang dari dulu sudah dibenturkan dengan berbagai macam masalah dan perubahan perubahan yang tentunya membuat kami menjadi angkatan yang lebih siap. terima kasih bagi kalian yang sudah menganggap remeh, dan untuk segala cibiran, hinaan, hujatan, serta sindiran, kami mengucapkan terima kasih karena dengan itu semua membuat kami lebih kuat. sekali lagi terima kasih.
salam hangat, 20.
